Camp Vietnam di Pulau Galang Indonesia dan Sejarah Kemanusiaan

Pulau Galang  adalah  salah satu wilayah di Kepulauan Riau, yang ternyata menyimpan cerita . Dimana , beberapa puluh tahun lalu , tepatnya tahun 1975 hingga 1996 tengah berdiri sebuah kamp pengungsian seluas 80 ha bagi para pengungsi asal negara Vietnam. Untuk menuju lokasi ini para pengunjung dari luar daerah Batam dimulai dari Bandara Hang Nadim Batam , wisatawan  dapat  meneruskan tujuan perjalanan menuju Pulau Galang. Jarak Pulau Galang dari kota Batam sekitar 50an  kilometer  dan  bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam-2 jam menuju lokasi dari Bandara Hang Nadim Batam.
Saya akan menceritakan sedikit mengenai sejarah kemanusiaan untuk para pengungsi Vietnam dalam menyelamatkan kemanusiaan , dimana para pengungsi ini menempuh jarak yang jauh  menyeberang lautan dan  samudera , sehingga  membuat para pengungsi ini menjadi manusia perahu akibat perang saudara yang tengah terjadi di Negaranya saat itu .
IMG_0372.1
Bukti Peninggalan sebuah kapal kayu yang digunakan oleh pengungsi Vietnam untuk mencari perlindungan dan suaka menuju tempat yang lebih aman menyeberangi Lautan dan Samudera Cina Laut Selatan.

Perang saudara yang terjadi di Vietnam yang berlangsung tahun 1955-1975 membawa banyak korban berjatuhan. Korban yang tidak ingin dibantai oleh perang saudara itu memilih untuk pergi dan pengungsi dengan jumlah yang tidak sedikit.
Berikut ini sedikit ulasan kisahnya.
Sejarah tentang pengungsi Vietnam Selatan kurang lebih 250.000 ribu jiwa yang melarikan diri meninggalkan kampung halamannya di Vietnam untuk mengungsi ke negara lain pasca perang  saudara yang terjadi di Vietnam Selatan saat itu. Saat peristiwa itu terjadi, banyak pengungsi meninggalkan tempat tinggalnya dengan perahu-perahu kayu dengan kondisi yang memprihatinkan. Dimana dalam satu perahu diisi oleh 40-100 orang ( Pria, wanita, dan anak anak ) .

5529c6df6ea83491178b456d
Lukisan saat para pengungsi di Museum Cam Vietnam Pulau Galang,dima terlihat para pengungsi menggunakan kapal kayu kecil dengan muatan 40 orang – 400an orang menyebrangi Lautan Luas.
5529c6df6ea83491178b4569
Lukisan Para pengungsi yang berusaha menyelamatkan diri saling berhimpitan di dalam sebuah kapal kayu.

Berbulan-bulan para pengungsi ini terombang-ambing di tengah perairan Laut Cina Selatan, yang deras akan ombak dan banyaknya ikan ikan hiu yang berlalu lalang, mereka tidak memiliki  tujuan yang jelas mau menuju ke mana saat itu. Sebagian dari mereka ada yang meninggal di tengah lautan, akibat kelaparan dan tidak minum. Ada yang terdampar di pulau karang tanpa bahan makanan, dan ada sebagian lagi dapat mencapai daratan, termasuk wilayah Indonesia, seperti Pulau Galang Batam , Tanjung Pinang, Kepulauan Natuna dan pulau-pulau kecil di sepanjang pantai di Kepulauan Riau.

Setelah kurang lebih selama satu bulan berlayar mengarungi Samudera, tibalah rombongan pertama dari manusia perahu Vietnam ini di Pulau Anambas sebuah pulau di Kepulauan Natuna di wilayah kepulauan Riau sekarang pada tanggal 21 Mei 1975. Mereka berjumlah 75 orang menumpang satu buah perahu kayu. Menyusul setelah itu, gelombang para pengungsi Vietnam ini semakin lama semakin banyak hingg akhirnya menjadi permasalahan di beberapa negara tetangga Vietnam, yaitu Malaysia, Thailand dan Indonesia. Perserikatan Bangsa-Bangsapun kemudian turun tangan. Organisasi PBB (Perserikatan Bangsa bangsa)  yang mengurusi pengungsi UNHCR mengadakan rapat beberapa negara di Bangkok yang akhirnya menetapkan menjadikan satu pulau di Indonesia untuk dijadikan tempat pengungsian dan Negara Negara yang menjadi Anggota PBB membiayai seluruhnya para pengungsi kala itu.

Sedikit Tulisan Pengungsi Vietnam di Pulau Anambas Kepulauan Natuna Kepri
Memory kedatangan para pengungsi Vietnam di Pulau Anambas di Kepulauan Natuna pada tahun 1979-1986.
Dipilihlah pulau Galang yang relatif masih kosong untuk dijadikan tempat pengungsian. Pulau Galang yang luasnya 250 ha itu kemudian diambil 80 ha untuk dijadikan kawasan pengungsi. Manusia perahu Vietnam yang tersebar di beberapa kepulauan akhirnya disatukan di Pulau Galang. Dari hasil penyatuan di berbagai tempat itulah terkumpul hingga 250.000 jiwa, sebuah jumlah yang sangat dahsyat besarnya untuk sekelompok pengungsian kala itu.
Kawasan pengungsian yang dibangun oleh PBB ini lumayan lengkap. Selain fasilitas barak-barak pengungsian, terdapat juga rumah sakit, sekolahan, rumah ibadah berbagai agama secara lengkap, pemakaman umum, bahkan terdapat juga penjara bagi orang-orang yang melakukan kejahatan dan pemberontakan.

Base Camp TNI
Basecamp untuk para TNI, Polisi dan Perwalian PBB UNHCR yangbertugas untuk menjaga para pengungsi saat itu.

Wilayah pengungsian ini dibuat eksklusif, tertutup bagi orang luar, kecuali fasilitas rumah sakit di mana masyarakat umum bisa menggunakan fasilitas tersebut secara gratis. Urusan keamanan diserahkan kepada pihak TNI Polri yang diawasi secara ketat oleh PBB ,

untuk membantu para pengungsi ini pihak dari UNHCR dan Pemerintah Indonesia menoreh rasa kemanusian yang mendalam bagi para pengungsi ketika itu pihak dari UNHCR dan Pemerintah Indonesia membangun berbagai fasilitas di sebuah bidang tanah 80 hektar di Pulau Galang dimana sarana yang di bangun adalah seperti barak pengungsian, tempat ibadah, rumah sakit, dan sekolah, bahkan penjara sehingga ini akan digunakan untuk memfasilitasi sekitar 250.000 jiwa orang pengungsi. Para pengungsi ini dikonsentrasikan di satu permukiman dan  tertutup interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan dan penjagaan keamanan bagi para pengungsi.
hospital..
Rumah Sakit yang dibangun untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin yang menjangkiti para pengungsi Vietnam, yang dikenal dengan Vietnam Rose

Saat para pengunjung yang ingin menuju ke lokasi ini, pengunjung akan di sambung oleh hutan yang pemukiman warga tang ada di bahu kiri dan kanan jalan. Sebuah jembatan yang fenomenal dibangun oleh Bapak H.B.J Habibie yang kala itu menjabat sebagai Kepala Otorita Kota Batam. Sehingga lambang jembatan Barelang ini menjadi icon Kota Batam

Barelang Bridge 2
Jembatan Barelang yang di bangun oleh Bapak H.B.J Habibie dikala sore hari

Sesampai di sana para pengunjung akan merasakan suasana sepi menyambut , karena memang tidak ada kehidupan di sekitar Camp, para pengunjung akan di sambut oleh sekumpulan monyet hutan yang berharap mendapat makanan dari para pengunjung. Dengan bangunan-bangunan yang sudah tidak terawat lagi , para pengunjung akan melewati pintu gerbang, kemudian menyusuri jalan aspal dengan kanan kiri terdapat tanda pengenal jalan dan nama tempat bertulisakan bahasa vietnam, english dan indonesia. Setelahnya para pengunjung akan  sampai di sebuah taman yang terdapat sebuah patung, Patung Taman Humanity atau Patung Kemanusiaan.

Ada pun cerita yang beredar dari kisahnya mengenai patung ini menggambarkan sosok wanita yang bernama Tinhn Han Loai yang diperkosa oleh sesama pengungsi. Karena malu menanggung beban diperkosa, akhirnya Tinhn Han Loai memutuskan bunuh diri. Dalam rangka mengenang peristiwa tragis itulah maka patung ini dibuat oleh para pengungsi lainnya untuk mengenang Tinhn Han Loai.

IMG_0371.1
Sekumpulan monyet hutan yang akan menghampiri para pengunjung yang datang. Terlihat sekitar 100 ekor monyet hutan masih menghuni tempat ini.

Melanjutkan perjalanan, tidak jauh dari Patung Taman Humanity, terdapat areal pemakaman yang bernama Ngha Trang Grave. Di sini, dimakamkan 503 pengungsi Vietnam yang meninggal karena berbagai penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Selain itu, depresi mental membuat kondisi fisik mereka semakin lemah.

pemakaman camp vietnam .
Pemakaman yang bernama Ngha Trang Grave. Di sini, dimakamkan 503 pengungsi Vietnam yang meninggal karena berbagai penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Selain itu, depresi mental membuat kondisi fisik mereka semakin lemah.

Setelah melewati areal pemakaman, pengunjung akan sampai di Monumen Perahu yang terdiri atas tiga perahu yang digunakan para pengungsi ketika meninggalkan Vietnam. Dengan perahu seperti itulah mereka berbulan-bulan mengarungi lautan hingga sampai di pulau Galang ataupun pulau-pulau lainnya di sekitar Kepulauan Riau.Ada pun perahu-perahu ini adalah perahu-perahu yang diangkat ke daratan dan direnovasi, ada juga perahu-perahu itu yang sengaja ditenggelamkan dan bahkan ada yang dibakar oleh para pengungsi sebagai bentuk protes atas kebijakan UNHCR dan Pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar 5.000 pengungsi, karena mereka tidak lolos tes untuk mendapatkan kewarganegaraan, atau suaka dari negara negara lain seperti Australia, Perancis, Amerika Serikat dan negara lainnya.

IMG_0375.1
Wisatawan asal negara China berkunjung dan melihat sisa kapal kayu yang telah di bawa ke darat, dan membaca sekilas history pengungsi saat berada di atas kapal.

Setelah dari monumen perahu, rasa sedih memenuhi ketika melihat peninggalan yang bersejarah ini, kini tidak begitu terawat, banyak semak belukar, bahkan banyak bangunan yang sudah rusak. Suasana ketika berada di camp vietnam ini kita akan  membayangkan pada masa itu, tempat ini ramai dengan pengungsi, bagaikan sebuah kampung kecil. Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana kehidupan para pengungsi di camp ini kita dapat mengunjungi museum yang masih menyimpan berbagai peralatan sehari-hari yang digunakan oleh para pengungsi , foto para pengungsi dan foto kegiatan yang mereka lakukan.

Selain itu, berbagai tempat ibadah yang dulu dibangun untuk memfasilitasi pengungsi, juga masih ada hingga kini. Seperti, Vihara Quan Am Tu, Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, gereja protestan, dan juga mushola. Tempat-tempat ibadah ini pun tidak jauh berbeda kondisinya dengan bangunan lain yang sudah tidak terawat dan rusak.

Hanya Vihara Quan Am TU yang masih terlihat terawat dan masih digunakan. Vihara Quan Am TU merupakan salah satu tempat ibadah yang paling mencolok di area itu. Cat bangunan yang berwarna-warni membuat pengunjung dapat mengenalinya dari kejauhan.

Ketika akan masuk ke areal Gereja Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, kita membaca sebuah papan nama gereja serta terdapat juga tulisan ‘Galang, Memory of a tragedy past’, suatu pesan yang dalam dari tragedi kemanusiaan akibat perang. Sebuah renungan kepedihan betapa akibat dari perang adalah penderitaan bagi sebagian besar rakyat yang menjadi korban, keluarga-keluarga terpisah, anak-anak yang harus di adopsi oleh keluarga dari negara lain.
Setelah negara mereka berdamai sesuai dengan perjanjian PBB , maka para pengungsi yang tidak mendapatkan kewarganegaraan dari negara yang akan menampung mereka untuk suaka maka akan di kembalikan ke Negara asal. Pemulangan ini terjadi bulan april- september pada tahun 1996.

IMG_0376.1
Barang barang peninggalan para pengungsi vietnam yang berada di Camp Vietnam Pulau Galang.
IMG_0377.1
Dara para penghuni Barak Sinam pengungsi di di Camp Vietnam Pulau Galang.
IMG_0379.1
Photo dimana saat Menristek B.J Habibie selaku kepala Otorita Batam tampak sedang menggendong anak manusia perahu bersama Panglima ABRI Jendral TNI Feisal Tanjung, saat melepas keberangkatan kapal terakhir dari dermaga Tanjung Uban, pada tanggal 03 September 1996.
IMG_0384.1
Photo dimana saat Dan Kogas Mayjen TNI Arie J. Kumaat tampak sedang memberikan penjelasan kepada Menristek B.J Habibie tentang pemulangan terakhir para pengungsi Vietnam ke Negara Asalnya.
IMG_0386.1
Photo dimana saat peresmian Rumah Sakit PMI Pulau Galang yang di hadiri oleh Menlu, Menteri Kesehatan RI, Bupati Kepulauan Riau, Duta Besar Amerika , Duta Besar Australia , UNHCR , Pangdaeral Laksa , Kolonel Angkatan Laut Kesehatan di Museum Camp Vietnam Pulau Galang.
IMG_0389.1
Photo disaat Pemulangan para pengungsi saat itu tahun 1996 dan photo pengurus Camp Vietnam beberapa waktu lalu.
IMG_0391.1
Photo ” Seribu Wajah Kenangan Pulau Galang ” di Camp Vietnam Pulau Galang.

Untuk mencapai lokasi Camp Vietnam dibutuhkan waktu tempuh sekitar 1,5 jam -2 jam dari Batam Center dengan melewati Simpang Kabil, Panbil, Tembesi dan  jembatan barelang satu sampai jembatan barelang lima , saat ini sudah ada transportasi umum  untuk transportasi atau angkutan umum  tersedia  di jam jam tertentu saja. Umumnya hanya ada pagi , siang dan sore dimana untuk mengangkut anak sekolah dan siang hari ketika pulang sekolah untuk sampai masyarakat sekitar..

Jadi wisatawan dari luar pulau batam yang akan mengunjungi camp vietnam disarankan untuk menyewa mobil atau Bus pariwisata. Sepanjang perjalanan para pengunjung akan banyak yang melihat rumah warga , hutan  ,  rangkaian jembatan Barelang dari jembatan satu sampai dengan jembatan lima dan juga ada perkebunan Buah Naga , perkebunan , kelong kelong dan seafood milik warga sekitar.

 

Sumber : Museum Camp Vietnam Pulau Galang , Wikipedi
By Irwanta Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s